voetbal, obsesi

Pertengahan tahun 1983, di sebuah pagi yang cerah ayah saya menculik saya dan membawa saya ke stasiun kereta. Saya tinggal di Banyuwangi, di sebuah desa kecil bernama kalibaru. Kita akan pergi ke surabaya. Sekitar 5 jam perjalanan dari desa saya. Sampai di uabaya kita langsung naik bus kota menuju stadion Tambaksari. Hari itu, 3 Mei 1983, adalah ulang tahun saya yang ke lima. Dan selama ini sepak bola adalah obsesi saya. Hari itu adalah pertandingan antara Niac Mitra melawan Warna Agung dalam tunamen sepakbola semi profesional Indonesia, GALATAMA.
Begitu saya melihat stadion di kejauhan yang bisa saya lakukan hanya bengong... melongo... dan hari ini saya akan nonton Niac Mitra. Hadiah ulang tahun yang luar biasa!!! Sepak bola mulai merasuki saya sejak umur 4 tahun ketika sering menemani ayah nonton piala dunia. sejak itu setiap pertandingan sepak bola di tv tak pernah lepas dari mata. Menendang bola adalah sebuah obsesi. Dan niac mitra adalah tempat impian kalo nanti saya jadi pemain bola.
Apa hebatnya Niac Mitra? Musim 1983-1984 mereka tampil dengan beberapa pemain asing, David Lee, kiper nasional Singapura dan si nomor 17, Fandi Ahmad... anak emas sepakbola asia tenggara. Pemain dengan talenta luar biasa dan pemain pertama asia yang masuk sekolah sepak bola ajax asterdam.
Memasuki stadion tambaksari surabaya, mulut saya tidak bisa tertutup... Pedagang suvenir berderet di pintu stadion... Saya merengek minta dibelikan jersey Niac Mitra yang jelas kedodoran untuk anak usia 5 tahun. Tapi untuk si anak yang berulang tahun ayah saya rela mengalah. Dan pasti sya memilih jersey dengan nomor punggung 17. dan sebagai bonus saya mendapat ikat kepala bertuliskan Niac Mitra.
Kita berdua duduk di tribun vip, dengan harga tiket 10 ribu rupiah... mahal sekali untuk masa itu. Kita duduk tak sabar menunggu pertandingan antara Niac Mitra melawan Warna Agung. saya duduk... bunyi terompet dan tambur mulai bersautan... lalau terdengar anouncher mulai berteriak di depan mik...
"Penonton yang terhormat... mari kita sambut tim tamu Warna Agung!!!!"
dan teriakan huuuuuuuuu panjangg... terdengar menggema di stadion... dengan sekuat tenaga saya pun teriak, "huuuuuuu..."
lalu terdengar teriakan anouncher.. "dan inilah... tim kesayangan kita... Niac Mitra...."
Tepuk tangan panjang terdengar dari suporter... Kemudian anouncher mamanggil nama pemain Niac Mitra satu persatu... "Nomor punggung satu.... david leee!!!!" kemudian satu persatu pemain keluar dari lorong yang tepat terletak di sbelah kanan tempat duduk saya... saya pun berdiri berlari dan menjulrkan tangan untuk dapat bersalaman dengan para pemain... sampai saat anouncher berteriak kencang... "Penonton sekalian... nomor punggung 17....!!!!" gemuruh seisi stadion berteriak... "Fandiii...Fandiii... Fandiii!!!!" .... saya semakin mendekat ke bibir lorong dan menjulurkan tangan saya ke bawah... "nomor punggung 17!!!!! Fandiiiiiiiiiiii Ahmaaaaadddd!!!"
Fandi Ahmad keluar dari lorong dan tangannya menyalami tangan saya... serta memberi handuk hijau dengan logo niac mitra... lalu dia berlari keluar lapangan dan mengarah ke tribun penonton. Dia melemparkan handuk ke arah penonton...
pertandingan dimulai dan berjalan seru... Niac Mitra menang 3-1... di akhir pertandingan Fandi Ahmad melemparkan kaos yang dia pakai ke arah penonton...
Musimkompetisi ini, Niac Mitra berhasil menjadi juara... tapi ini menjadi pertandingan terakhir Fandi Ahmad dan David Lee, karena setelah itu ada larangan pemakaian pemain asing di liga.
Fandi Ahmad kemudian bermain untuk Groningen FC, Belanda...
Sejak saat itu sepak bola menjadi obsesi saya...
