Monday, February 20, 2006

voetbal, obsesi


Pertengahan tahun 1983, di sebuah pagi yang cerah ayah saya menculik saya dan membawa saya ke stasiun kereta. Saya tinggal di Banyuwangi, di sebuah desa kecil bernama kalibaru. Kita akan pergi ke surabaya. Sekitar 5 jam perjalanan dari desa saya. Sampai di uabaya kita langsung naik bus kota menuju stadion Tambaksari. Hari itu, 3 Mei 1983, adalah ulang tahun saya yang ke lima. Dan selama ini sepak bola adalah obsesi saya. Hari itu adalah pertandingan antara Niac Mitra melawan Warna Agung dalam tunamen sepakbola semi profesional Indonesia, GALATAMA.

Begitu saya melihat stadion di kejauhan yang bisa saya lakukan hanya bengong... melongo... dan hari ini saya akan nonton Niac Mitra. Hadiah ulang tahun yang luar biasa!!! Sepak bola mulai merasuki saya sejak umur 4 tahun ketika sering menemani ayah nonton piala dunia. sejak itu setiap pertandingan sepak bola di tv tak pernah lepas dari mata. Menendang bola adalah sebuah obsesi. Dan niac mitra adalah tempat impian kalo nanti saya jadi pemain bola.

Apa hebatnya Niac Mitra? Musim 1983-1984 mereka tampil dengan beberapa pemain asing, David Lee, kiper nasional Singapura dan si nomor 17, Fandi Ahmad... anak emas sepakbola asia tenggara. Pemain dengan talenta luar biasa dan pemain pertama asia yang masuk sekolah sepak bola ajax asterdam.

Memasuki stadion tambaksari surabaya, mulut saya tidak bisa tertutup... Pedagang suvenir berderet di pintu stadion... Saya merengek minta dibelikan jersey Niac Mitra yang jelas kedodoran untuk anak usia 5 tahun. Tapi untuk si anak yang berulang tahun ayah saya rela mengalah. Dan pasti sya memilih jersey dengan nomor punggung 17. dan sebagai bonus saya mendapat ikat kepala bertuliskan Niac Mitra.

Kita berdua duduk di tribun vip, dengan harga tiket 10 ribu rupiah... mahal sekali untuk masa itu. Kita duduk tak sabar menunggu pertandingan antara Niac Mitra melawan Warna Agung. saya duduk... bunyi terompet dan tambur mulai bersautan... lalau terdengar anouncher mulai berteriak di depan mik...
"Penonton yang terhormat... mari kita sambut tim tamu Warna Agung!!!!"
dan teriakan huuuuuuuuu panjangg... terdengar menggema di stadion... dengan sekuat tenaga saya pun teriak, "huuuuuuu..."

lalu terdengar teriakan anouncher.. "dan inilah... tim kesayangan kita... Niac Mitra...."
Tepuk tangan panjang terdengar dari suporter... Kemudian anouncher mamanggil nama pemain Niac Mitra satu persatu... "Nomor punggung satu.... david leee!!!!" kemudian satu persatu pemain keluar dari lorong yang tepat terletak di sbelah kanan tempat duduk saya... saya pun berdiri berlari dan menjulrkan tangan untuk dapat bersalaman dengan para pemain... sampai saat anouncher berteriak kencang... "Penonton sekalian... nomor punggung 17....!!!!" gemuruh seisi stadion berteriak... "Fandiii...Fandiii... Fandiii!!!!" .... saya semakin mendekat ke bibir lorong dan menjulurkan tangan saya ke bawah... "nomor punggung 17!!!!! Fandiiiiiiiiiiii Ahmaaaaadddd!!!"

Fandi Ahmad keluar dari lorong dan tangannya menyalami tangan saya... serta memberi handuk hijau dengan logo niac mitra... lalu dia berlari keluar lapangan dan mengarah ke tribun penonton. Dia melemparkan handuk ke arah penonton...

pertandingan dimulai dan berjalan seru... Niac Mitra menang 3-1... di akhir pertandingan Fandi Ahmad melemparkan kaos yang dia pakai ke arah penonton...

Musimkompetisi ini, Niac Mitra berhasil menjadi juara... tapi ini menjadi pertandingan terakhir Fandi Ahmad dan David Lee, karena setelah itu ada larangan pemakaian pemain asing di liga.
Fandi Ahmad kemudian bermain untuk Groningen FC, Belanda...

Sejak saat itu sepak bola menjadi obsesi saya...

Sunday, October 09, 2005

Apa Indahnya Masturbasi?

Masturbasi, aktivitas pemuasan seksual ini sering dianggap sebuah perbuatan yang memalukan. Tapi herannya, makhluk fantasi bernama masturbasi ini dilakukan hampir kebanyakan orang.

Menurut wikipedia Indonesia Masturbasi adalah rangsangan disengaja yang dilakukan pada organ alat kelamin untuk memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual. Masturbasi dilakukan oleh sebagian besar pria maupun wanita. Pada sebuah penelitian terungkap bahwa 95% pria dan 89% wanita dilaporkan pernah melakukan masturbasi. Ini adalah perilaku seksual pertama yang dilakukan oleh sebagian besar pria dan wanita, meskipun lebih banyak wanita daripada pria yang telah melakukan senggama bahkan sebelum mereka pernah melakukan masturbasi. Sebagian besar pria yang melakukan masturbasi cenderung melakukannya lebih sering dibandingkan wanita, dan mereka cenderung menyatakan 'selalu' atau 'biasanya' mengalami orgasme ketika bermasturbasi (4 : 3). Ini adalah perilaku seksual yang paling umum nomor dua (setelah senggama), bahkan bagi mereka yang telah memiliki pasangan seksual tetap. Sebuah tindakan pemuasan seksual secara mandiri yang sering diungkapkan sebagai ketidakmampuan untuk mendapat pemuasan seks yang sewajarnya, dalam kata lain well, identik dengan gak laku, takut, atau tidak puas dengan aktivitas seks berpartner. Berbicara tentang masturbasi ini seperti berbicara tentang PKI di Indonesia. Dia ada dan pernah ada tapi sebagian besar dari kita berusaha untuk menutupinya. Ini adalah aib mungkin, buat beberapa orang. Bayangkan kalau kita kepergok masturbasi oleh teman kita, atau orang tua, atau guru agama mungkin. Apa yang bisa kita katakan? Malukah kita? Mungkin sebagian besar orang akan malu pastinya. Gimana nggak… kita tertangkap basah oleh orang lain sedang memegang kemaluan dengan mulut sedikit terbuka, hidung kembang kempis, dan mata merem melek… yang jelas kita bisa mendapat amuk. Tapi herannya, makhluk fantasi bernama masturbasi ini dilakukan hamper kebanyakan orang.

Apa indahnya masturbasi? Fantasi… semua orang menyukai fantasi. Semua orang tergila-gila dengan mimpi. Dan semua orang punya fantasi seksual. Entah fantasi ini normal atau tidak normal. Fantasi ini yang bikin kita punya namanya mimpi. Fantasi ini yang buat kita kerja keras banting tulang untuk misalnya nanti beli mobil… atau diam-diam kita bikinin kopi sekretaris kantor yang cantik karena dalam otak kita ada secuil fantasi untuk bisa kencan dengannya.

Masturbasi adalah salah satu cara mencapai fantasi itu dalam sebuah kotak mimpi. Dalam kotak mimpi ini kita jadi tuhan.

Saya masturbasi pertama kali kelas 6 sd. Saat itu saya tidak tahu apa itu masturbasi. Korban kebiadaban atau keindahan fantasi saya adalah gambar-gambar . Saat itu saya suka membaca komik Mahabarata versi Teguh Santosa. Teguh Santosa menggambarkan para putri dalam cerita Mahabarata dengan sempurna menurut fantasi saya meskipun dari segi cerita mengecewakan. Saya selalu terpesona dengan gambaran dan garis wajah dalam komik serial ini. Mahabarata dalam otak saya adalah kisah bangsa aria, pendatang dari dataran euroasia yang menjelajah jalur sutera lalu terdampar di semenanjung hindia. Menaklukkan bangsa dravida yang kalau dalam kisah wayang mungkin digambarkan sebagai kaum raksasa. Bangsa aria ini memang mempunyai syarat lengkap untuk dikatakan gagah dan cantik. Dan kemudian lahirlah legenda mahabarata ini. legenda kaum aria yang dalam bayangan saya waktu kecil kurang lebih seperti amitabachan dan sri devi. Dan menggores pena saktinya dengan mantap untuk melengkapkan gambaran saya ini. Dan tokoh yang paling cantik menurut saya adalah drupadi. Gambaran drupadi dalam komik ini adalah seorang perempuan dengan mata besar, hidung mancung, bibir merekah, bulu mata lentik dan rambut panjang berombak. Selain itu putri raja drupada ini digambarkan dengan bentuk tubuh menawan, pinggang langsing, pantat penuh dan payudara menantang (mungkin penggunaan bahasa ini sedikit tak berkenan di telinga kaum feminis tapi saya tidak menemukan kata-kata lain untuk mendeskripsikannya… sumpah deh…) wal hasil di awal masa puber saya, drupadi adalah gadis impian saya. Sebuah bentuk penggambaran komik ini hadir dalam mimpi basah pertama kali saya. Apa yang lebih luar biasa dari perempuan dengan 5 suami? Cuma dia yang sanggup. Lalu siapa putri dengan segala dendamnya bersumpah untuk keramas dengan darah orang yang melecehkannya? Perempuan mana yang bertahan dengan kutuk pastu dan doa-doa kepada dewa ketika dia dipermalukan oleh Dursasana, ditelanjangi dimuka umum, ditarik kainnya dihadapan kelima suaminya yang hanya tertunduk penuh penyesalan. Perempuan dengan amarah yang memuncak dan mendapat perlindungan dewa-dewa. Perempuan ini adalah imajinasi saya akan perempuan dengan sex appeal nomor wahid. walhasil saya tidak bisa lepas dari komik setiap waktu. dan bagian yang ada drupadi akan selalu saya pandangi, saya baca, saya amati berulang-ulang.

saya tinggal di sebuah desa di bawah kaki gunung raung yang dingin dan penuh dengan sumber mata air yang mengucurkan air deras lewat pancuran-pancuran raksasa. saya katakan pancuran raksasa karena kebanyakan lebih menyerupai air terjun kecil dari pada pancuran. setiap sore kita, saya dan teman-teman saya, mandi di mata air itu selepas kita bermain seharian dan tetap setiap kali saya main tak lupa komik tak lepas dari tangan. entah siapa yang memulai kita menemukan sebuah cara yang luar biasa untuk memuaskan diri kita. kita ramai ramai telanjang dan mengantri di bawah pancuran. setiap orang mendapat giliran untuk menaruh kemaluannya di bawah pancuran. mata kita terpejam dan rasanya kalau kata teman saya seperti kencing tapi semua badan gemetar. kemudian saya tahu bahwa itu adalah orgasme diikuti dengan ejakulasi. ketika tiba giliran saya saya pejamkan mata dan pasti terlintas dalam otak saya adalah drupadi. sosok impian ini hadir di dalam pikiran saya dengan semua ciuman, belaian dan tubuh penuh hasrat. saya pejamkan mata dan menaruh kemaluan saya di bawah air deras mengucur. dan saya juga merasakan rasa seperti kencing dan badan gemetar. belakangan saya tahu kalau itu adalah masturbasi. sekarang saya sering tersenyum sendiri membayangkan apa yang kita, saya dan teman-teman saya , lakukan pada waktu kecil. bayangkan ada segerombolan anak laki-laki usia 11-13 tahun bugil berbaris rapi menunggu giliran untuk memasang kemaluannya di bawah pancuran.

dan ini adalah indahnya masturbasi. kita bisa memasang sosok impian kita memasang proyektor di dalam kepala, menjadi sutradara film erotis untuk diri kita sendiri. sebuah pencapaian sempurna dalam kehidupan seksual untuk hal-hal yang susah atau bahkan tidak mungkin tercapai. bagaimana mungkin dalam kenyataan saya bisa bercinta dengan tokoh mitos? bagaimana mungkin saya bisa bercinta dengan sosok dalam komik?

Tuesday, March 01, 2005

Cerita aku, n…, dh…, d…, dan r…

Aku dan n…
Bipbip…bipbip…
1 message received
gw abis bca chairil anwar, mulutmu mcubit d mlutku, mglegak bnci sjnak itu, mngpa mrihmu tk kcekik pula, ktka hlus prih kau mluka? Keren…
n…
Lalu aku terhenyak, menggeliat malas, mendekap bantal mengusap liur. Memandang dinding kamar, menatap langit-langit. Mengerjap kental bayang-bayang di setiap gumpalan kapur.
kmr bgn, 3x4 mtr, terlalu smpt bt meniup nyawa
sbh jndl menyerahkan kmr ini
pd dunia
skllng dunia seolh bunuh diri…
message sent
bipbip…bipbip
report: delivered: n…
Aku bangkit membuka jendela. Angin malam menusuk membawa luka realita. Membangkitkan cerita buruk tentang hidup yang merana. Tak ada cinta kawan tak ada. Semua sekarat terantuk dalam dunia yang semakin kecil. Menelusup lara dalam tulang yang terkurung rapat.
bipbip…bipbip…
1 message received
sdh itu kta trmangu, slg brtnya apkh ini? Cinta? Keduanya tk mngrti, shri itu kta brsm, tk hmpir mhmpri, ah hatiku yg tk mau mberi
mampus kau dkoyak2 sepi…
n…
Tentang dunia ini, kawan, semakin aku tak mengerti. Hari ini kita bersama mungkin besok kita melupa. Di kamar ini terasing aku dari panggung besar yang naïf. Tak terusik segelas cappuccino, sepotong tiramisu, dan sebungkus Marlboro. Di tempatku kawan, hanya ada celetukan jorok kuli bangunan dan gosip murahan artis dangdut. Aku bangun
perutku pun harus diisi. Sepiring nasi urap, tempe goreng, telor dadar, segelas teh manis panas dan sebatang rokok kretek, sambil menatap televisi. Melihat bintang gemerlap bergaun Versace, berhidung mancung. Besok dia menikah, dengan bule kaya tentunya…
aku berbnh dlm kmr, dlm drku jk kau dtg, dan ak bs lg lpskn ksh baru pdmu, tp kn hanya tgn yg bergrk lantang. Tbhku diam dan sndr, crt dan peristiwa berlalu beku…
message sent
bipbip…bipbip…
report: delivered: n…
Besok dan lusa kawan, tetap kita akan terlupa.
Dunia sudah berdiri sendiri dan kita merayap di pinggirnya.


aku dan dh…
“Kau terlalu serius”, katamu. Lalu kita bersama berjalan. Menggantang serpihan otak di atap cakrawala. Sore itu, aku dan kau melihat dunia dalam lipatan kosong. “Aku cinta kau”, kataku. Aku pegang jarimu. Kau diam. Dua anak kecil lewat sambil tiup terompet. Tukang sate duduk termenung di depan gerobaknya. Sore itu kita bersama. Berasa sulit cinta itu. Bermain di antara semua cerita kota. Tentang dunia tempat kita bercanda.
“Ah, kau tak pernah serius”, katamu. Mata berair menatap mukaku dengan tamparan seratus palu godam. Air mengucur memeras awan kelabu. Siram aspal panas dan menguap jadi kabut. Aku mematung tak bernyawa. “Aku pulang ya…”, ujarmu sambil mengusap bahuku. Taksi berwarna biru menghampiri. Pintu terbuka, kedalamnya kau melangkah. Aku mematung tak bernyawa. Air perlahan merayap di kulit wajah. Tuhan mengutuk hambanya yang terlalu lama mencinta.
aku dan d…
Kau menghampiriku. Kali ini dalam riuh kaum urban, di pojok starbuck, tempat kopi di buat diperas diolah lalu dikemas dalam bentuk gaya hidup. “ Hai, apa kabar?”, sapamu ramah. Aku hanya tersenyum terpana. Gadis tomboy dengan rambut dikuncir. Ah, kau memang tak pernah berubah, kaos hijau polos, celana dan jaket jeans. Lalu kau duduk tepat di sampingku.
“Aku paling senang lihat orang lalu lalang. Duduk diam dan melihat wajah-wajah manusia,” katamu. Kita hirup perlahan, latte dengan kayu manis bercampur gula merah. “Bagi rokok dong,” pintamu. Aku sodorkan rokok kretek kesukaanmu yang sering kita hisap sambil minum segelas bir, dulu. “Bapak minta aku cepet nikah,” kau mulai berkata. Kau hisap rokok kretek dalam-dalam lalu kau hembuskan asapnya dalam bentuk lingkaran. Aku masih ingat kaulah yang mengajariku membentuk lingkaran dari asap rokok. Sekarang giliranku. aku hisap rokokku dalam-dalam. Aku bikin sebuah lingkaran. Aku biarkan dia membesar sesaat lalu hembuskan lagi asap rokok kencang tepat di tengah lingkaran. Indah sekali. Manis. Asap bersatu, yang satu menerobos yang lain. Lalu buyar bersama riak ketawa gadis-gadis remaja yang duduk di ujung café. Melesap dalam hembusan udara malam merayap menyentuh wajah-wajah kota. “Ya sudah, nikahlah,” ujarku sambil tersenyum. “Ama siapa? Kambing?” Kau hisap lagi rokokmu lalu kau tiup tepat dimukaku. Nikotin merajam mata. Perih. Air berair keluar dan aku kerjapkan mataku. “Sialan!” umpatku. Aku ambil tisu dari dalam tasmu. Ya, kau selalu membawa sapu tangan pulp di dalam tasmu. Ada suara tawa lirih. “Hah, senang kau rupanya!” Aku tersenyum kecut.
Lalu kau terus bicara, “Dia pikir aku lesbi.” Tawaku pun meledak. “Kenapa?” tanyamu. “Nggak, pengen aja.” Kau tatap sepasang remaja yang bergandeng tangan. Seorang bintang sinetron terkenal lewat di depan kita. Indo, tampan. “Nah, kalo ama yang ini aku mau nikah” ujarmu.
Kata berima terbuai dalam kerancuan,
Tergagap terucap bersama sekelebat ceria
Kaca mata berbingkai plastik, merangkum binar-binar senyum
(sengak asap sigaret menerobos celah celah dingin tempat firasat terbuai, sementara aku mematung menatap dalam bimbang)
aku dan r…
Perempuan datang dengan sejuta cerita, dengan sejuta ceria dan segala duka dia dekap di dada. Tak jua di buka. Lalu dia tumpahkan semua di depan mukaku. Dengan senang hati aku lahap semua, karena aku cinta dia.
Biasanya dia datang dengan muka cerah. “Es krim yuk!” ajaknya. Kita duduk di tengah mall di sebuah restaurant cepat saji. Ice cream cone dan French fries. Semua cerita tumpah meluap seiring dengan nikmatnya colekan kentang di atas es krim. Dan aku cinta dia. Aku rangkum semua kesenangan, aku dekap rapat-rapat. aku taburkan semua di depan mukanya. Kita selalu tertawa. Tak ada yang luka. Tidak juga aku
Apakah dia cintakan aku? Aku tak tahu. Tak penting.
Lain waktu kita pergi ke pantai. Berenang sampai jauh dan dia mengapung dengan tangan terlentang. Terombang ambing oleh ombak. Terus kita berjemur serap mentari bakar kulit kita.
Sesaat kita berada di tengah anak-anak korban penggusuran. Muka-muka dekil gembira selalu tertawa lebar melihat dia datang. Dia ajari mereka menggambar sedang aku sibuk dengan kamera. Aku tangkap bayangan riuh dia dan anak-anak. Aku tangkap sampah yang mengapung di kali. Aku tangkap ibu-ibu mencuci ikan di pinggir wc terapung. Aku tangkap sejuta ceria yang terpinggirkan. Aku tangkap perahu warna-warni tempat mereka tinggal. Aku tangkap celoteh jorok bapak-bapak yang merajut jaring. Aku tangkap seorang pembantu menggantung jejeran celana dalam tuannya di real estate sebelah. Hanya terpisah tembok, Tuhan sudah menunjukkan urutan nasib. Aku tersenyum kecut. Aku tangkap lagi dia dengan crayon di tangan dan anak-anak dekil amis yang mengerebuti. Dia menggores garis. Dia gambar kupu-kupu, anak-anak itu terpana. Dia gambar mentari, anak-anak terpesona. Dia gambar perahu anak-anak gembira. Dia gambar ikan, awan, bintang, laut, penyu, langit, gubuk, bendera dan mereka terbelalak. Mata-mata cerah tak berdosa menatap tajam. Mereka tersihir, terbuai dengan dongeng-dongeng lewat goresan crayon. Dia beri secuil bahagia pada jiwa-jiwa pinggiran. Jiwa-jiwa yang terlupa ketika aku menghirup Bloody Marry dan larut dalam alunan Rolling Stones. Jiwa-jiwa yang tak hadir ketika pesta berlangsung di kaki-kaki gedung megah penuh dengan gemerlap merkuri dan dentuman Phat and Small. Jiwa-jiwa yang lenyap ketika kita mereguk Italian Soda dan berdebat tentang calon presiden sambil diselingi alunan virtuoso dari mulut penyanyi sintal. Aku tangkap itu dan tersenyum kecut. Aku cinta dia karena dia beri bahagia pada bagian kita yang tak pernah muncul di kepala. Apa dia cintakan aku? Aku tak peduli. Tak penting
Aku…
Segelas kopi pahit, sebatang rokok kretek dan alunan Cozy Street Corner. Sekarang aku tulis setangkup cerita. Aku berikan kepada kalian.
Semua kuhirup
Semua kurasa
Semuanya indah
Malam itu hujan deras. Butir air turun selaksa hamburan pasir dari atas langit. Aku menulis.
Semua ku dengar
Semua kulihat
Semuanya indah
Tombol-tombol keyboard komputer bersuara berirama. Jari-jari mematuk huruf-huruf.
Kuhirup
Kurasa
Semuanya yang indah
Kuingin sampaikan padamu
Kudengar
Kulihat
Semuanya yang indah
Kuingin sampaikan padamu
Aku ambil semua serpihan yang terbang mengelilingi kepalaku. Aku rangkai mereka. Aku culik dan aku lepaskan di layar monitor.
Semua yang indah telah kurangkai menjadi cerita
Sekarang dengar inilah saya, ingin bercerita
Bip…bip…
Telepon selularku berbunyi. Aku tatap layarnya. Bundasayang.
“Hai bu…”
“Piye kabarmu nak?”
“Baik bu…”
“Udah dapat kerja tetap belum?
Bum!@!! Kepalaku terbentur tembok tebal. Mata berkunang-kunang. Aku buka pintu dan keluar kamar. Aku hirup udara malam dalam-dalam.

Tuesday, February 22, 2005

Doa Pagi Ini

Lembaran selimut tercampak di lantai
tubuhku telanjang telentang di atas kasur busa empuk
sejenak terkejap mata menatap langit-langit
aku tolehkan kepala, di sebelah meradang sepasang buah dada
aku tempelkan putingnya ke mata
"terima kasih tuhan pagi ini aku telah berdoa"

Monday, February 21, 2005

aku siksa kamu, manis

aku selipkan abu rokok di bola matamu
aku semburkan asap tebal ke lubang hidungmu
aku siksa kamu, manisdengan seruan seruan memaki
di telan semua kemarahan tak terkendali
cantik, aku lumat habis bibir merekah
aku hujamkan dosa-dosa ke liang berludah
aku puja kamu di dalam siksa
aku buai indahmu di lipatan-lipatan derita
aku hujamkan perih aku buatkan duka
aku ciptakan dunia penuh siksa
aku betuk genangan darah pada luapan pesonamu
dengan penuh kebencian cantik, aku memujamu...

Aku cium kau

Aku cium kau
Dalam kamar yang berantakan
Angin berputar
Sinar menyelinap dari lubang angin

Aku cium kau
Di kering kerongkongan
Menumpahkan riak suka
Melalui liur-liur asmara

Aku cium kau
Di telan deru kereta
Orang berangkat kerja
keringat berombak lepas
iringi lidah bersilat

sekarang
aku cium kau
sekali lagi

Friday, February 18, 2005

18.52 setalah makan di bakmi GM

dan aku lihat wajahmu... lalu bajaj menderu... asap kendaraan menari-nari di atas aspal... dan aku persembahkan untukmu... sedikit wiski... akankah kita mabuk bersama??? akankah kita lupa diri dan luruh dalam degupan jantung tak berujung??? aku tak tahu... sementara kota terus berjalan... metromini bertaburan... motor-motor berserakan... mobil-mobil berjumpalitan... taksi-taksi berlompatan... "enaknya pulang sambil nyruput wiski..." katamu... dan mataku berbinar-binar... huruf huruf jejingkrakan... jari-jari melata...
lalu apa yang akan ku beri untukmu lagi??? akankah sejuta rayuan asmara tentang cinta abadi??? ataukah sebuah pujian-pujian setinggi mentari??? tak sanggup aku... tak akan... itu bukan duniaku... atau seperti kata chairil anwar??? akankah aku bentuk dunia sendiri dan aku beri nyawa semua yang ada di dalamnya??? tak mungkin...
inilah yang bisa aku sumpalkan ke dalam dirimu... setangkup kota dan semua aktivitasnya... yang tiba-tiba menjadi begitu indah sore ini... sopir-sopir memaki seakan alunan freddy mercuri... pengamen jalanan tiba-tiba semerdu sinatra... penjual gado-gado bergoyang sebinal inul daratista... pedagang asongan menari salsa... berdansa diantara klakson-klakson berirama flamenco... gedung-gedung melampah... meliukkan bedoyo... mistis dan magis... lampu-lampu berkedip tiupkan kunang-kunang ke pupilku...
dan aku terus berjalan... di mataku sejuta keriangan... aku berikan kota ini untukmu dan semua aktivitasku... metromini... angkutan umum... debu.... asap... gelandangan... pelacur... kaum berdasi... satpam... polisi lalu lintas... rombongan pejabat tinggi... gosip tentang artis di tabloid murahan... berita pembunuhan di koran kuning... dvd bajakan... kaos kaki sepuluh ribu tiga...
dan sore ini mereka semua membuncah... bermain-main di dalam otakku... bersama teh celup yang aku hirup dan asap sigaret mentol yang engkau hembuskan...

Thursday, February 17, 2005

aku akan memburumu seperti kutukan...

ada sebuah cerpen karya begawan cerpen Indonesia, Seno Gumira Ajidarma. Judulnya Sepotong Senja Untuk Pacarku (kalo gak salah). Ceritanya tentang seorang lelaki yang bernama Sukab yang berusaha mencuri senja untuk pacarnya. Sang pencuri senja yang bernama Sukab, memotong senja seukuran postcard. dan dunia panik semua mencari sukab hingga ke lorong-lorong terpencil, masuk gorong-gorong, bercampur dengan gelandangan dan kaum bawah tanah lainnya. Lalu dia berjalan terus hingga ditemukanlah sebuah negeri dengan senja abadi. dia terperangah terpesona. dalam sebuah dunia bawahtanah yang antah berantah itu ternyata berujung ke sebuah senja yang indah. matahari setengah bulat di ufuk barat dan warna jingga semburat mewarnai tepian pantai nan permai. daun-daun jingga, pasir jingga, air laut jingga, kapal nelayan jingga, jaring mereka jingga, orang pacaran jingga, burung camar jingga, lumba-lumba jingga, pohon nyiur jingga...
jingga yang mempesona inilah yang ada dalam saku celana Sukab. jingga yang memancar di celah-celah kain sehingga dia di kejar-kejar seluruh aparat penegak hukum dari pelosok negeri. jingga inilah yang dia potong seukuran postcard dan dia bawa lari... dan kemudian dia mengambil pisau dari celananya dan dia potong senja di ujung gorong-gorong ini seukuran postcard. dia kembali ke permukaan dan menyerahkan jingga itu ke manusia dunia luar...
sejak saat itulah jingga lenyap dari negeri gorong-gorong... sebuah lobang seukuran postcard terlihat jelas di langit bawah tanah. Negeri ini negeri kami... senja itu adalah napas kami... pelukan jingga di setiap sisi kehidupan kami lenyap... berganti timbunan gelap dan curahan kelam tak berujung... anak-anak menangis, ibu-ibu menjerit, lelaki-lelaki kami terpana dengan tatapan kosong... kami adalah kaum terusir... terbuang menjadi gembel di dunia atas... kami cari sendiri gorong-gorong kami dan setelah kami temukan dan kami hidup tenang dan senang di dalam sebuah harapan bersepuh jingga yang beribukan senja, tiba-tiba dia hilang... pencuri tengik telah menggantikan senja kaum durjana dengan senja kami...
dan aku adalah orang yang mencari senja itu... kali ini aku tak mau kalah... aku akan culik senja kalian sebanyak mungkin... aku akan potong seukuran postcard lalu aku tambal langit negeri ini...
aku tak pernah berhenti sampai kakiku lumpuh... sampai kepalaku pecah dan butir-butir air mataku kering... aku akan memburumu seperti kutukan....