Cerita aku, n…, dh…, d…, dan r…
Aku dan n…
Bipbip…bipbip…
1 message received
gw abis bca chairil anwar, mulutmu mcubit d mlutku, mglegak bnci sjnak itu, mngpa mrihmu tk kcekik pula, ktka hlus prih kau mluka? Keren…
n…
Lalu aku terhenyak, menggeliat malas, mendekap bantal mengusap liur. Memandang dinding kamar, menatap langit-langit. Mengerjap kental bayang-bayang di setiap gumpalan kapur.
kmr bgn, 3x4 mtr, terlalu smpt bt meniup nyawa
sbh jndl menyerahkan kmr ini
pd dunia
skllng dunia seolh bunuh diri…
message sent
bipbip…bipbip
report: delivered: n…
Aku bangkit membuka jendela. Angin malam menusuk membawa luka realita. Membangkitkan cerita buruk tentang hidup yang merana. Tak ada cinta kawan tak ada. Semua sekarat terantuk dalam dunia yang semakin kecil. Menelusup lara dalam tulang yang terkurung rapat.
bipbip…bipbip…
1 message received
sdh itu kta trmangu, slg brtnya apkh ini? Cinta? Keduanya tk mngrti, shri itu kta brsm, tk hmpir mhmpri, ah hatiku yg tk mau mberi
mampus kau dkoyak2 sepi…
n…
Tentang dunia ini, kawan, semakin aku tak mengerti. Hari ini kita bersama mungkin besok kita melupa. Di kamar ini terasing aku dari panggung besar yang naïf. Tak terusik segelas cappuccino, sepotong tiramisu, dan sebungkus Marlboro. Di tempatku kawan, hanya ada celetukan jorok kuli bangunan dan gosip murahan artis dangdut. Aku bangun
perutku pun harus diisi. Sepiring nasi urap, tempe goreng, telor dadar, segelas teh manis panas dan sebatang rokok kretek, sambil menatap televisi. Melihat bintang gemerlap bergaun Versace, berhidung mancung. Besok dia menikah, dengan bule kaya tentunya…
aku berbnh dlm kmr, dlm drku jk kau dtg, dan ak bs lg lpskn ksh baru pdmu, tp kn hanya tgn yg bergrk lantang. Tbhku diam dan sndr, crt dan peristiwa berlalu beku…
message sent
bipbip…bipbip…
report: delivered: n…
Besok dan lusa kawan, tetap kita akan terlupa.
Dunia sudah berdiri sendiri dan kita merayap di pinggirnya.
aku dan dh…
“Kau terlalu serius”, katamu. Lalu kita bersama berjalan. Menggantang serpihan otak di atap cakrawala. Sore itu, aku dan kau melihat dunia dalam lipatan kosong. “Aku cinta kau”, kataku. Aku pegang jarimu. Kau diam. Dua anak kecil lewat sambil tiup terompet. Tukang sate duduk termenung di depan gerobaknya. Sore itu kita bersama. Berasa sulit cinta itu. Bermain di antara semua cerita kota. Tentang dunia tempat kita bercanda.
“Ah, kau tak pernah serius”, katamu. Mata berair menatap mukaku dengan tamparan seratus palu godam. Air mengucur memeras awan kelabu. Siram aspal panas dan menguap jadi kabut. Aku mematung tak bernyawa. “Aku pulang ya…”, ujarmu sambil mengusap bahuku. Taksi berwarna biru menghampiri. Pintu terbuka, kedalamnya kau melangkah. Aku mematung tak bernyawa. Air perlahan merayap di kulit wajah. Tuhan mengutuk hambanya yang terlalu lama mencinta.
aku dan d…
Kau menghampiriku. Kali ini dalam riuh kaum urban, di pojok starbuck, tempat kopi di buat diperas diolah lalu dikemas dalam bentuk gaya hidup. “ Hai, apa kabar?”, sapamu ramah. Aku hanya tersenyum terpana. Gadis tomboy dengan rambut dikuncir. Ah, kau memang tak pernah berubah, kaos hijau polos, celana dan jaket jeans. Lalu kau duduk tepat di sampingku.
“Aku paling senang lihat orang lalu lalang. Duduk diam dan melihat wajah-wajah manusia,” katamu. Kita hirup perlahan, latte dengan kayu manis bercampur gula merah. “Bagi rokok dong,” pintamu. Aku sodorkan rokok kretek kesukaanmu yang sering kita hisap sambil minum segelas bir, dulu. “Bapak minta aku cepet nikah,” kau mulai berkata. Kau hisap rokok kretek dalam-dalam lalu kau hembuskan asapnya dalam bentuk lingkaran. Aku masih ingat kaulah yang mengajariku membentuk lingkaran dari asap rokok. Sekarang giliranku. aku hisap rokokku dalam-dalam. Aku bikin sebuah lingkaran. Aku biarkan dia membesar sesaat lalu hembuskan lagi asap rokok kencang tepat di tengah lingkaran. Indah sekali. Manis. Asap bersatu, yang satu menerobos yang lain. Lalu buyar bersama riak ketawa gadis-gadis remaja yang duduk di ujung café. Melesap dalam hembusan udara malam merayap menyentuh wajah-wajah kota. “Ya sudah, nikahlah,” ujarku sambil tersenyum. “Ama siapa? Kambing?” Kau hisap lagi rokokmu lalu kau tiup tepat dimukaku. Nikotin merajam mata. Perih. Air berair keluar dan aku kerjapkan mataku. “Sialan!” umpatku. Aku ambil tisu dari dalam tasmu. Ya, kau selalu membawa sapu tangan pulp di dalam tasmu. Ada suara tawa lirih. “Hah, senang kau rupanya!” Aku tersenyum kecut.
Lalu kau terus bicara, “Dia pikir aku lesbi.” Tawaku pun meledak. “Kenapa?” tanyamu. “Nggak, pengen aja.” Kau tatap sepasang remaja yang bergandeng tangan. Seorang bintang sinetron terkenal lewat di depan kita. Indo, tampan. “Nah, kalo ama yang ini aku mau nikah” ujarmu.
Kata berima terbuai dalam kerancuan,
Tergagap terucap bersama sekelebat ceria
Kaca mata berbingkai plastik, merangkum binar-binar senyum
(sengak asap sigaret menerobos celah celah dingin tempat firasat terbuai, sementara aku mematung menatap dalam bimbang)
aku dan r…
Perempuan datang dengan sejuta cerita, dengan sejuta ceria dan segala duka dia dekap di dada. Tak jua di buka. Lalu dia tumpahkan semua di depan mukaku. Dengan senang hati aku lahap semua, karena aku cinta dia.
Biasanya dia datang dengan muka cerah. “Es krim yuk!” ajaknya. Kita duduk di tengah mall di sebuah restaurant cepat saji. Ice cream cone dan French fries. Semua cerita tumpah meluap seiring dengan nikmatnya colekan kentang di atas es krim. Dan aku cinta dia. Aku rangkum semua kesenangan, aku dekap rapat-rapat. aku taburkan semua di depan mukanya. Kita selalu tertawa. Tak ada yang luka. Tidak juga aku
Apakah dia cintakan aku? Aku tak tahu. Tak penting.
Lain waktu kita pergi ke pantai. Berenang sampai jauh dan dia mengapung dengan tangan terlentang. Terombang ambing oleh ombak. Terus kita berjemur serap mentari bakar kulit kita.
Sesaat kita berada di tengah anak-anak korban penggusuran. Muka-muka dekil gembira selalu tertawa lebar melihat dia datang. Dia ajari mereka menggambar sedang aku sibuk dengan kamera. Aku tangkap bayangan riuh dia dan anak-anak. Aku tangkap sampah yang mengapung di kali. Aku tangkap ibu-ibu mencuci ikan di pinggir wc terapung. Aku tangkap sejuta ceria yang terpinggirkan. Aku tangkap perahu warna-warni tempat mereka tinggal. Aku tangkap celoteh jorok bapak-bapak yang merajut jaring. Aku tangkap seorang pembantu menggantung jejeran celana dalam tuannya di real estate sebelah. Hanya terpisah tembok, Tuhan sudah menunjukkan urutan nasib. Aku tersenyum kecut. Aku tangkap lagi dia dengan crayon di tangan dan anak-anak dekil amis yang mengerebuti. Dia menggores garis. Dia gambar kupu-kupu, anak-anak itu terpana. Dia gambar mentari, anak-anak terpesona. Dia gambar perahu anak-anak gembira. Dia gambar ikan, awan, bintang, laut, penyu, langit, gubuk, bendera dan mereka terbelalak. Mata-mata cerah tak berdosa menatap tajam. Mereka tersihir, terbuai dengan dongeng-dongeng lewat goresan crayon. Dia beri secuil bahagia pada jiwa-jiwa pinggiran. Jiwa-jiwa yang terlupa ketika aku menghirup Bloody Marry dan larut dalam alunan Rolling Stones. Jiwa-jiwa yang tak hadir ketika pesta berlangsung di kaki-kaki gedung megah penuh dengan gemerlap merkuri dan dentuman Phat and Small. Jiwa-jiwa yang lenyap ketika kita mereguk Italian Soda dan berdebat tentang calon presiden sambil diselingi alunan virtuoso dari mulut penyanyi sintal. Aku tangkap itu dan tersenyum kecut. Aku cinta dia karena dia beri bahagia pada bagian kita yang tak pernah muncul di kepala. Apa dia cintakan aku? Aku tak peduli. Tak penting
Aku…
Segelas kopi pahit, sebatang rokok kretek dan alunan Cozy Street Corner. Sekarang aku tulis setangkup cerita. Aku berikan kepada kalian.
Semua kuhirup
Semua kurasa
Semuanya indah
Malam itu hujan deras. Butir air turun selaksa hamburan pasir dari atas langit. Aku menulis.
Semua ku dengar
Semua kulihat
Semuanya indah
Tombol-tombol keyboard komputer bersuara berirama. Jari-jari mematuk huruf-huruf.
Kuhirup
Kurasa
Semuanya yang indah
Kuingin sampaikan padamu
Kudengar
Kulihat
Semuanya yang indah
Kuingin sampaikan padamu
Aku ambil semua serpihan yang terbang mengelilingi kepalaku. Aku rangkai mereka. Aku culik dan aku lepaskan di layar monitor.
Semua yang indah telah kurangkai menjadi cerita
Sekarang dengar inilah saya, ingin bercerita
Bip…bip…
Telepon selularku berbunyi. Aku tatap layarnya. Bundasayang.
“Hai bu…”
“Piye kabarmu nak?”
“Baik bu…”
“Udah dapat kerja tetap belum?
Bum!@!! Kepalaku terbentur tembok tebal. Mata berkunang-kunang. Aku buka pintu dan keluar kamar. Aku hirup udara malam dalam-dalam.